Investor asing masih percaya Indonesia Unknown Rabu, 19 Agustus 2015

Investor asing masih optimistis dengan perekonomian Indonesia di masa mendatang. Hal ini setidaknya terlihat pada sikap investor asing yang mayoritas menggenggam Surat Utang Negara (SUN) bertenor panjang.

Data SUN dwi mingguan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DPPR) Kementerian Keuangan mencatat, porsi investor asing dalam SUN domestik per 4 Agustus 2015 mencapai Rp 533,4 triliun atawa 38,94% dari total outstanding SUN yang dapat diperdagangkan.

Dari total portofolio asing tersebut, mayoritas investor luar negeri menempatkan dana di SUN dengan tenor lebih dari 10 tahun. Porsi tersebut mencapai 46%, naik ketimbang posisi akhir tahun 2014 yang tercatat 43%. Sisanya, sekitar 36% portofolio investor asing parkir di SUN tenor 5 tahun–10 tahun, sebesar 12% pada SUN berusia 2 tahun–5 tahun, 3% di SUN bertempo 1 tahun–2 tahun, serta 3% di SUN bertenor kurang dari satu tahun.

Menurut Ariawan, Analis Sucorinvest Sentral Gani, kondisi ini mengindikasikan, investor asing masih yakin dengan masa depan perekonomian Tanah Air. “Kalau mereka kurang optimistis, pasti lebih banyak memilih yang tenor pendek,” tuturnya.

Inflasi Indonesia bulan Juli 2015 tercatat 0,93%. Hal ini menguatkan harapan bahwa target inflasi sepanjang tahun 2015 yang dipatok 4% (±1%) dapat terwujud. Menurut Ariawan, ada beberapa alasan SUN tenor panjang lebih menarik. Pertama, imbal hasil alias yield SUN dalam negeri yang terbilang tinggi. Mengacu data Asian Bonds Online per 18 Agustus, yield SUN seri acuan FR0070 bertenor 10 tahun bertengger di angka 8,721%. Angka tersebut lebih menarik ketimbang yield SUN bertenor sama negara lain, semisal Malaysia yang 4,304%, Singapura 2,631%, Thailand 2,683% serta Amerika Serikat 2,168%.

Kedua, pasokan SUN tenor panjang lebih banyak di pasar sekunder dan lebih likuid. Ketiga, volatilitas SUN tenor panjang yang lebih tinggi ketimbang tenor pendek. Hal ini memudahkan investor asing meraup capital gain.

Analis obligasi BNI Securities I Made Adi Saputra Menurut Made juga menilai, volatilitas SUN tenor panjang menjadi daya tarik investor asing. Maklum, investor asing umumnya masuk ke SUN dengan tujuan trading, bukan memegang hingga jatuh tempo alias hold to maturity.

Lelang SUN

Sementara itu, dalam lelang SUN Selasa (18/8) yang meraih total penawaran Rp 20,885 triliun, investor lebih banyak masuk ke tenor pendek. Dalam lelang kali ini, ada tiga seri yang dimenangkan pemerintah. Seri SPN12160512 bertenor sembilan bulan diserap Rp 2 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 6,63% dan imbalan diskonto.

Kedua, seri FR0053 jatuh tempo 15 Juli 2021 diserap Rp 5,55 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 8,4% dan imbalan 8,25%. Ketiga, seri FR0056 yang jatuh tempo pada 15 September 2026 diserap Rp 4,45 triliun dengan yield rata-rata tertimbang 8,56% dan imbalan 8,375%.

Sedangkan seri FR0073 yang jatuh tempo 15 Mei 2031 tidak dimenangkan. Made menilai, pemerintah enggan menyerap FR0073 karena investor meminta yield terlampau tinggi. Selain itu, terlihat investor mulai berhati-hati dan memantau perekonomian Indonesia pasca reshuffle kabinet.

Jika pemerintah tak mampu menggenjot perekonomian serta kurs rupiah, ada peluang investor asing beralih ke SUN tenor pendek dan menengah. Namun Ariawan meramal, hingga akhir tahun 2015, SUN bertenor panjang masih akan menjadi primadona bagi investor asing.

Sumber

Tags: saham onlineinvestasi sahamtrading saham onlinetrading saham indonesiabroker saham indonesiabroker saham online indonesia
Tags: